Karena Indo, Saya Begini

“Pada tahun 1984, selama sembilan bulan, saya lihat Indo, ibu yang melahirkan saya setiap hari hanya terbaring karena sakit. Sekujur tubuhnya bengkak, beliau terlihat seperti hamil karena perutnya yang terus membuncit. Waktu itu saya masih kelas empat sekolah dasar. Kami tidak membawanya berobat medis karena terkendala biaya”

***

Sore itu, setengah jam lagi menuju magrib. Lelaki itu sedang menyiram tanaman di halaman rumahnya. Saat saya tiba, dia menyambut dengan senyum. Saya menanyakan beberapa jenis tanaman, dia dengan senang menjelaskan. Seperti biasa saat memulai percakapan, dia  menanyakan kapan saya tiba dari Makassar.

Dia, H. Ridwan, yang setiap hari ditunggu puluhan pasiennya. Di sepetak ruangan praktik yang dibukanya setelah menikah dengan istrinya, Hj. Andi Asirah, tahun  2000 silam. Bermodalkan beberapa lembar papan tripleks, dia menyekat teras rumah mertuanya menjadi ruang periksa dengan kisaran ukuran 2,5×4 meter. Ruang praktiknya buka tiap hari setelah pulang kantor di Puskesmas Koppe, Kecamatan Bengo, Kabupaten Bone.

“Pada tahun 1984, selama sembilan bulan, saya lihat Indo,ibu yang melahirkan saya setiap hari hanya terbaring karena sakit. Sekujur tubuhnya bengkak, beliau terlihat seperti hamil karena perutnya yang terus membuncit. Waktu itu saya masih kelas empat sekolah dasar. Kami tidak membawanya berobat medis karena terkendala biaya”, kenangnya saat mulai bercerita tentang almarhum ibunya. Indo adalah panggilan ibu dalam suku bugis.

“Waktu itu, kami sudah berkeliling mencari obat untuk Indo. Dulu hanya Sandro, orang yang dianggap bisa menyembuhkan seseorang atau paranormal, yang bisa kami datangi. Namun, tak satu pun yang bisa menyembuhkan Indo dari sakitnya. Sampai akhirnya Indo meninggal membawa penyakitnya. Saya sempat terpukul, bahkan sangat terpukul, Ndi’”, jelasnya dengan nada yang serak mengenang ibunya. Ndi’ adalah panggilan adik dalam suku bugis.

“Bagaimana saya tidak terpukul, Indo adalah tulang punggung keluarga. Tiap hari Indo membawa hasil-hasil kebun untuk dijual di pasar. Hasil menjual Indo itulah yang membiayai uang sekolah kami. Saat Indo meninggal, saya dan saudara memaksa diri untuk hidup mandiri. Hikmahnya, yah kami cepat mandiri. Saya, kakak-kakak dan adik-adik saya semuanya pintar memasak karena tidak ada lagi Indo yang memasak untuk kami”, lanjutnya lagi.

Dia anak keempat dari delapan bersaudara. Sejak berusia enam tahun, dia sudah terlatih menggembala. Sapi yang awalnya beberapa ekor, bisa mencapai puluhan ekor yang beranak terus menerus. Tidak begitu lama, wabah penyakit pun menyerang sapi-sapinya. Saat musim hujan yang tidak menentu pergantiannya dengan panas, tiga hingga tujuh ekor sapinya bisa mati secara bersamaan. Kejadian itu terus berlanjut hingga semua sapi mati.

“Waktu itu, kami tidak pernah berpikir jauh tentang sapi-sapi ini. Sapi mengalami diare dan nafsu makannya menurun. Kakak-kakak saya tidak menyangka sapi-sapi akan terserang penyakit. Kalau saja kami tahu akan terjadi seperti ini, pasti sudah kami jual. Sampai ada satu sapi yang sangat besar sekali, kalau sapi besar ini dijual pasti sangat mahal harganya. Padahal sapi-sapi ini adalah harapan untuk membiayai kehidupan kami”, jawabnya saat saya bertanya tentang masa kecilnya.

Setelah menamatkan sekolah dasarnya, dia berharap agar bisa tetap melanjutkan sekolah. Dia tetap mengidamkan bisa duduk di bangku sekolah menengah pertama. Dia harus bertaruh dari sawah ke sawah. Ikut massaro atau panen padi di sawah milik orang lain, dia menjadi buruh panen untuk membiaya sekolah.

“Saat akan melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya sedikit putus asa soal biaya sekolah. Saya berkeliling mencari uang pinjaman senilai tujuh belas ribu rupiah untuk mendaftar masuk SMP. Tak satu pun orang yang mau meminjakan uangnya. Saya minta sama kakak yang sulung, karena saat itu dia sudah mengajar. Dia juga tak mampu membantu biaya pendaftaran karena gajinya juga tak seberapa”, tuturnya.

“Saya akhirnya ikut massaro selama sepuluh hari untuk mendapatkan uang pendaftaran. Hasilnya, dua puluh lima ribu rupiah. Bengkak tangan saya, ndi’, melepuh semua. Dari situ ada sedikit tambahan uang untuk beli buku. Setiap pulang sekolah, saya rutin memelihara ayam, kalau sudah besar saya jual lagi untuk tambahan keperluan sekolah”, tambahnya tentang kisah kecilnya.

Pria yang akrab disapa Rida kelahiran Pising, Kecamatan Lamuru, Kabupaten Bone 43 tahun silam ini, kini berprofesi sebagai seorang perawat. Sejak di bangku sekolah dasar hingga menengah pertama, selalu menjadi juara kelas. Hanya punya modal tekad yang besar untuk melewati himpitan hidup yang tiada habisnya. Baginya, belajar yang giat adalah jalan keluar untuk mengubah nasib.

“Itu dulu nak Rida, tidak pernah mentong itu berhenti pegang buku, nak. Kalau pergi gembalakan sapinya, selalu ada buku terselip di celananya. Begitu juga kalau pergi massaro, selalu ada buku dia pegang. Pergi lagi bermain-main apa saja dengan temannya, dia tetap meluangkan waktu membaca buku pelajarannya”, terang  guru H. Ridwan saat sekolah dasar, Drs. Hafid.

Saat ingin melanjutkan sekolah menengah atas di tahun 1992, Rida akhirnya harus mengurungkan niat untuk melanjutkan pendidikan di SPK (Sekolah Perawat Kesehatan) Labuang Baji Makassar. Selama setahun, dia terpaksa menghabiskan kelas satunya di SMA Negeri 1 Lamuru,  Kabupaten Bone. Namun, cita-citanya untuk sekolah di SPK Labuang Baji Makassar tak pernah pupus. Dia kembali mendaftarkan diri di SPK. Dengan modal selama setahun di bangku kelas satu SMA, dia cepat beradaptasi dan menerima pelajaran apa saja.

“Saat itu, orang tua tinggal Ambo, bapak saya yang juga sakit-sakitan. Saya mencoba mendaftar untuk kedua kalinya di SPK. Saya pulang ke Pising meminta uang pendaftaran sebanyak empat puluh ribu sama Ambo. Sambil memeluk kaki Ambo dan momohon restunya. Akhirnya saya lulus saat mendaftar kedua kalinya. Saya tinggal di rumah tante selama dua tahun”, Rida terdiam sejenak setelah menjelaskan, tatapannya kosong seperti terkenang sesuatu yang tak ingin diulangnya.

“Jadi waktu kelas tiga, tinggal di manaki, Daeng?, tanyaku disela keheningan.

“Saya tinggal di asrama sekolah, Ndi’. Jadi dulu itu…hhm..tidak usah mi saya cerita kayaknya itu”, seperti ada hal berat yang tak mampu dia ungkapkan, suaranya tertahan.

Sejak sekolah di SPK Labuang Baji, Rida tinggal di rumah tantenya selama dua tahun. Dia menceritakan bagaiamana hari-hari yang dia lewati di sana. Diantara tugas sekolah, tugas dinas di rumah sakit, dan pekerjaan rumah yang harus dia selesaikan. Baginya, bertahan adalah satu-satunya jalan untuk sebuah pembuktian.

“Dua tahun saya tinggal di rumah tante yang punya delapan orang anak. Selepas dinas pagi atau pun dinas malam, biasanya saya harus mencuci sedikitnya lima baskom pakaian kotor. Mengambil air, membersihkan rumah, dan mencuci, itu lah pekerjaan rutin saya selain sekolah dan mengerjakan tugas. Dua tahun kaki saya lenyet karena tugas mencuci, Ndi’”.

“Karena tak punya pilihan untuk tinggal di tempat lain jadi saya tetap bertahan di sana. Saya biasa berbohong sama tante ada dinas kalau ada ujian besoknya. Saya biasa menginap di mesjid dan menghabiskan malam dengan belajar. Karena di rumah sulit berkonsentrasi belajar. Sepupu-sepupu saya masih kecil-kecil, tidak berani saya menegur mereka”, tambahnya sambil tertawa kecil.

Setelah melewati dua tahun yang berat, Rida akhirnya masuk asrama sekolah saat naik kelas tiga. Dia tak perlu khawatir lagi soal kerja tamabahan yang mengganggu aktifitas belajarnya. Saat itu, sekolah di SPK Labuang Baji mendapat subsidi sebanyak dua belas ribu per semesternya dari pemerintah. Dari uang itulah dia bertahan melewati pendidikannya, meskipun kadang tidak cukup.

“Sejak SD, SMP, SPK saya tidak pernah jajan seperti teman-teman yang lain. Satu kali pun itu tidak pernah. Saya melatih diri untuk tidak terbiasa. Jangan sampai keenakan jajan dan lupa kalau biaya sekolah lebih penting. Pernah suatu waktu saya lagi dinas malam, ada pasien yang tidak ditemani satu pun keluarganya. Demamnya tinggi sekali dan harus segera di kompres”,

Waktu itu uang sisa lima ribu, saya keluar dan beli es batu seharga seribu lima ratus rupiah,  di depan rumah sakit. Saya dengar teman lagi  pasang nomor porkas. Porkas itu perjudian yang masih dibolehkan oleh pemerintah saat itu. Saya ikut pasang dengan nomor 073. Nomor itu memang selalu jadi angka ajaib untuk saya. Waktu mendaftar di SPK, nomor urut pendaftaran saya juga 073. Esok harinya sudah ada pengumuman dan nomor yang saya pasang naik. Uang sebanyak lima ratus ribu itu yang saya pakai hingga menyelesaikan sekolah.

Setelah menyelesaikan sekolahnya ditahun 1995, Rida magang di Rumah Sakit Kusta Dr. Tadjuddin Chalid, Makassar, selama enam bulan. Sebelumnya tidak lulus dalam tes Pegawai Negeri Sipil (PNS) ditahun yang sama. Pada tahun 1996 dia menambah pengetahuannya di Sekolah Perawat Kesehatan Sakit Jiwa (SPKSJ). Selama setahun, dia mengikuti pelatihan di Rumah Sakit Jiwa Dadi di jalan Lanto Daeng Pasewang.

Pada  tahun 1997, dia kembali mencoba mendaftar PNS. Lulus dengan nomor urut 073 lagi. Waktu itu, untuk penerimaan pegawai kesehatan melalui Dinas Kesehatan Provinsi. Sebanyak 120 orang diterima dari 2000 orang lebih pendaftar. Dia ditempatkan di kabupatan Bone. Awalanya penempatan di Rumah Sakit Umum Daerah Tenriawaru. Namun karena salah satu teman perempuannya yang juga lulus PNS ditempatkan di Gaya Baru Kecamatan Tellu Limppoe, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan,  tak mau ditempatkan di daerah tersebut, akhirnya dia rela untuk bertukar lokasi penempatan.

“Jalanan ke Gaya Baru memang terjal, kita harus mendaki dan terbilang sepi saat itu. Banyak hikmahmnya saya ditempatkan di Gaya Baru. Di sana saya cepat berkembang karena kekurangan dokter. Semua tindakan tanpa perintah dari dokter, jika tidak cepat bertindak pasien bisa semakin gawat. Jadi semua keputusan ada pada kami yang jaga tiap hari”, katanya saat menceritakan pengalaman kerjanya selama sembilan tahun di Gaya baru.

Rida berhasil masuk dan diterima oleh masyarakat Gaya Baru yang terbilang cukup tertutup. Beberapa paradigma masyarakat berhasil dipangkasnya. Di Gaya Baru, masyarakat tak suka minum obat ketika sakit. Mereka hanya mengenal paranormal dan suntikan ketika berobat di puskesmas. Kata masyarakat di sana, mereka tak diobati jika tidak disuntik. Apa pun sakitnya, solusi yang mereka tahu adalah disuntik.

Akhirnya, Rida gencar melakukan penyuluhan tanpa terlihat menggurui kepada masyarakat. Saat itu penyakit tifus adalah penyakit yang banyak menyerang warga. Dia juga pernah menangani penyakit serupa yang menyerang satu keluarga yang beranggotakan lima orang. Daerahnya dekat dari salah satu sungai dan akses menuju daerah tersebut juga tidak mudah.

“Pasien saya itu lima orang dalam satu rumah. Semua diserang penyakit tifus. Dan sudah sangat kurus karena sudah tak bisa makan, demam yang terus-menerus dan tak ada orang yang datang melihatnya. Saya mendengar kabar tersebut dan langsung pergi melihat kondisi mereka. Awalnya mereka menolak diobati, tapi saya tetap berusaha harus mengobati mereka. Tiap lima hari saya datang mengunjunginya karena akses ke sana hanya saat hari pasar”, tambahnya lagi.

Ayah dua orang anak ini terpanggil lagi untuk mengedukasi warga Gaya Baru dari tradisi masyarakatnya yang menimbulkan banyak penyakit setelah melakukan ritualnya. Ritual tersebut dikenal dengan Abbakkangeng. Ritual yang dilaksanakan sekali setahun ini membawa setiap orang-orang lanjut usia dan anak-anak warga ditempatkan di satu rumah. Kemudian orang-orang dewasa bernyanyi sepanjang hari selama berminggu-minggu. Asupan yang boleh dimakan hanya nasi dan ikan kering. “Akhirnya terjadi kekurangan gizi”.

Hal ini memicu banyaknya penyakit. Penyakit yang banyak ditemukan adalah tifus dan diare. Ritual ini sebagai bentuk penghormatan pada Segala’e. Segala’e dipercaya sebagai penjaga kampung. Menurut kepercayaan masayrakat di Gaya baru, hal ini dimaksud untuk menjaga kampung dan keluarganya dari bencana.

Setelah banyaknya penyakit yang timbul akibat ritual tersebut, Rida melakukan penyuluhan tentang gizi yang dibutuhkan tiap individu. Sejak saat itu masyarakat mulai mengedepankan kesehatan. Uniknya lagi, masyarakat di sana hanya boleh makan ayam diwaktu tertentu, seperti setelah panen raya. Seluruh rumah masyarakat menyajikan menu yang sama.

Setelah satu jam saya bercakap-cakap dengannya, saya akhirnya menanyakan alasannya selama ini mematok tarif yang cukup murah pada setiap pasiennya. Bahkan beberapa pasien tak dibiarkan membayar. Kenapa dia memilih hanya harga obat saja yang dibayar oleh pasien? Belum lagi dia menerima tiga orang untuk bekerja di tempat praktiknya yang harus digaji. Tiga orang tersebut adalah tenaga honorer di dua puskesmas yang berbeda. Gaji dari puskesmas pun tidak menentu, lebih sering tidak dibayar.

Daeng, jadi kenapa ki kasi tarif murah sama pasien ta?, tanya saya penasaran.

“Alasan saya adalah menolong. Harus bermanfaat untuk orang lain. Kalau sudah ada sedikit untuk saya dan itu berkah, sudah sangat cukup, ndi’. Percuma saya pasang tarif mahal kalau perasaan pasien saya setelah sampai di rumahnya marah-marah karena berobat terlalu mahal.  Untung kalau dia punya uang untuk berobat. Kalau tidak punya uang?”, sambil menghela nafas dan mengambil jeda. (kalimat tidak langsung)

“Tapi sebenarnya alasan pertama saya adalah karena kedua orang tua saya, ndi’. Saya selalu teringat dengan indo. Kami yang tak memiliki uang cukup untuk mengobati indo yang sakit parah. Belum lagi ambo yang juga sakit-sakitan”, dengan nada suara yang parau.

“Saya bahkan biasa bilang kepada pasien, kalau tidak punya uang dan mereka sakit tetap ke sini berobat. Mungkin memang jiwa saya seperti ini. Ini yang namanya bersakit-sakit dahulu yah, sepertinya. Semoga Tuhan melihat setiap perjuangan kita”, jawabnya tegas.

Hal ini juga dibenarkan oleh Hj. Rahmayani, perempuan yang akrab disapa Ani ini pernah bekerja di prakteknya. Ani berkata bahwa,

“Rida adalah sosok yang meneduhkan. Dengan sabar dia akan menjelaskan kepada pasien meski itu berkali-kali ketika tidak mengerti. Tak pernah menegur dengan marah, selalu saja disampaikan dengan cara yang santun. Dia tak melihat status sosial pasiennya. Bahkan biasa tidak menerima uang si pasien. Dia jujur kepada pasien. Ketika tak sanggup menangani, kepada pasien sangat terbuka bahwa dia tak bisa menangani pasien. Dia tidak mau hanya karena uang dia menahan pasiennya untuk tidak segera ke rumah sakit”, kata Ani ketika mengenang masa-masa kerjanya bersama Rida selama kira-kira lima tahun dan berhenti karena harus mengurus dua orang anaknya.

Tujuh belas tahun saya mengenal Rida. Setelah menikah dengan kakak saya, sedikit pun saya tak pernah mendengarnya bersuara keras. Kepada istri dan anak-anaknya pun tidak. Dia orang yang senang diajak bercerita hal apapun. Dia menyekolahkan adik-adik dan ponakannya. Saya banyak belajar ilmu medis darinya. Saat akan masuk universitas, dia adalah orang yang mendorong saya memilih jurusan pendidikan dokter. Bahkan saat tidak lulus dia masih terus menyemangati untuk mendaftar di kedokteran hewan.

“Saya sudah sangat mensyukuri hidup ini, ndi’. Semoga bisa tetap bermanfaat untuk orang lain. Meski pun masih ada cita-cita saya yang belum tercapai..” katanya sambil tertawa lepas.

“Apa lagi cita-cita ta yang belum tercapai, deng?”, tanyaku penasaran.

“Saya ingin sekali jadi dokter. Iya, itu cita-cita saya yang sampai sekarang tidak tercapai. Tapi…sudahlah. Saya juga membantu orang sakit meski bukan seorang dokter”, tutupnya lega dan tersenyum

***

Sesekali saya menyeka air mata saat menulis kisah ini. Dari kisah anak kecil yang tidak pernah berputus asa dengan kondisi terhimpit. H. Ridwan, S. Kep, Ns, telah mengajarkan banyak hal tentang kesederhanaan, kegigihan dan semangat berbagi yang tak pernah surut. Baginya, bermanfaat bagi yang lain adalah tujuan hidup.

Nama besar tidak selalu mengindikasikan pemikiran yang besar. Terkadang, pemikiran besar justru dimiliki rakyat kecil. Yang lebih besar penderitaannya dari pada bicaranya yang tidak pernah dibesar-besarkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s