Karena Indo, Saya Begini

“Pada tahun 1984, selama sembilan bulan, saya lihat Indo, ibu yang melahirkan saya setiap hari hanya terbaring karena sakit. Sekujur tubuhnya bengkak, beliau terlihat seperti hamil karena perutnya yang terus membuncit. Waktu itu saya masih kelas empat sekolah dasar. Kami tidak membawanya berobat medis karena terkendala biaya”

***

Sore itu, setengah jam lagi menuju magrib. Lelaki itu sedang menyiram tanaman di halaman rumahnya. Saat saya tiba, dia menyambut dengan senyum. Saya menanyakan beberapa jenis tanaman, dia dengan senang hati menjelaskan. Seperti biasa saat memulai percakapan, dia  menanyakan kapan saya tiba dari Makassar. Continue reading “Karena Indo, Saya Begini”

Iklan

KHP; Menempa Diri dan Berproses jadi Dokter Hewan

Siang nan terik di bilangan kompleks kampus lama Unhas (Universitas Hasanuddin), Sunu. Segerombolan mahasiswa program S1 mengenakan baju praktikum. Menunggu perintah mengerjakan pretest dan mengumpulkan TP (Tugas Pendahuluan) oleh asisten. Mereka berbaris di samping bangunan berwarna ungu muda, Klinik Hewan Pendidikan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (KHP FK UH).

Di depan KHP terdapat lahan yang cukup luas untuk memarkir kisaran sepuluh mobil. Kendaraan para dosen dan mahasiswa setiap hari memenuhi parkiran itu. Apa lagi sejak berlangsungnya program Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) atau orang lebih mengenlanya dengan coass. Jika merujuk setahun yang lalu, KHP terbilang sepi. Meski begitu, sejak diresmikannya pada bulan Oktober 2015 lalu, selalu terbuka untuk umum. Continue reading “KHP; Menempa Diri dan Berproses jadi Dokter Hewan”

Yang Kamu Lakukan Kepada Saya itu Panas!

Pernah suatu waktu, saya merasa gerah dan sangat geram dengan perlakuan seseorang kepada saya. Bagaimana tidak, saya yang menemaninya selama hampir delapan tahun berjuang, tapi nyatanya dia memilih orang lain untuk berlabuh. Dan sadisnya lagi, dia pergi tanpa menjelaskan apa pun. Rasanya seperti secarik kertas panjang bertuliskan kisah tak sampai, terbakar dan berakhir menjadi abu. Habis diterbangkan angin dan sebagian mengendap akibat hujan.

“Rangga, yang kamu lakukan kepada saya itu panas! Eh, jahat!” Continue reading “Yang Kamu Lakukan Kepada Saya itu Panas!”

rasa

Rasa ini indah bila kurasa

Rasa ini rindu bila bila kuhayati

Rasa ini cinta bila itu dirimu

 

Tak akan ada rasa menandingi rasa ini

Bila ini sungguh adalah dirimu

Tak akan ada rasa lagi untuk yang kedua

Karena kau adalah yang pertama

Tak akan kurasa akhir

Karena kau adalah awal

 

Lappariaja, Agustus 2010

Daun Tua Depan Fakultas

Tentang pohon yang tahu diri. Ia tak pernah memaksa untuk selamanya merantingkan diri pada pohon. Ia paham bahwa daun muda ingin diberi tempat. Ia mengerti bahwa yang muda mesti memberi warna kembali, setelah yang tua usang didera terik panas dan dingin hujan. Ia pasrah didigugurkan dan diterbangkan angin.

tentang daun yang tahu diri dan seorang ibu tua yang ikhlas membersihkan taman. Agar setiap orang yang melintas tak terhalangi oleh daun. Tentu juga untuk menghadirkan sesuatu yang kau sebut keindahan itu. Lalu, daun, tahu dirikah aku ini?

Makassar, 31 Maret 2015

Hujan Tadi

Hujan membasahi ingatanku tentangmu, mengajakku bermain ditengah deraian air di jalan kota…mengalir satu arus membasuh jiwaku. Hujan menenggelamkanku dalam kenangan, menari-nari seirama gempurannya yang tepat jatuh di aspal. Jika kau ibarat aspal dan aku menjadi hujan, telah kutuang semua rasaku pada aspal yang keras, namun aku tak perlu khawatir, suatu saat, sekeras apapun aspal yang menyaksikan hujan turun, ia akan menjadi goyah dan menjadi aspal yang telah kehilangan sebagian dari dirinya. Jangan menyangsikan hujan yang berderai begitu derasnya, dari hujan kita belajar, tak ada yang yang bisa ditampung begitu lama.

Makassar, 15 Februari 2016

 

Catatan Ara #2

Ada 26 tumpukan huruf serta begitu banyak kata yang mestinya mampu tersusun, tapi aku hanya mampu terdiam. saat setiap saat gambar menjelaskannya. Jelas, tegas. tidak ada tawaran lagi untuk mencari tahu, karena ini sudah sangat jelas.

“Ternyata kamu.., ah, bukan! Jadi selama ini kamu…sudahlah, selamat!”, bisikku dalam hati.

Kita telah memilih jalan ini, bukan, kau telah memilih jalan ini. Kuhitung jejak kepergianmu, setiap ayunan langkah kaki yang ringan kau angkat menjadi jalan retak yang coba kulalui. Kumohon untuk tidak peduli, meski sedih telah kehilangan cerita lalu. Aku tak ingin siapapun itu menemukannya, biarkan menjadi dongeng tidur dikala senja kita nanti.

Mana mungkin ingin kuhujani dirimu dengan guratan kesedihan. Tidak. Aku sungguh tidak sekejam itu dan kau selalu tahubahwa aku adalah perempuan yang selalu rela kau hadiahkan rasa sedih. Aku tak pernah menolak, kan? Kau ingat? Tembok depan jalan itu menjadi saksi, kita pernah bersuah di bawah temaram bulan sabit. Seminggu yang lalu aku datang mengunjunginya, ada rasa simpati yang ingin ia sampaikan meski tak terbahasakan, ia bahkan kini memiliki retak di sudut kirinya.

Ingin kubertanya kepadanya, tapi semampu apa ia bisa menjawab? Ah, mungkin ia sungguh simpati kepadaku sepeninggalmu. Aku teringat pada sebuah tulisan yang tercetak miring dalam cerpen karya M. Aan Mansyur, “Hidup adalah sembunyi. Jika kau miskin, kau harus tahu bagaimana menyembunyikan papa. Jika kau kaya, kau harus tahu bagaimana menyembunyikan harta. Jelek atau cantik, kau harus tahu bagaimana menyembunyikan rupa. Belajarlah seni menyembunyikan!”.

Dan aku harus belajar menyembunyikan ini. Kau tahu, aku bosan dihujani pertanyaan oleh pohon depan sekolah tempat kita mangkal, atau bangku depan tugu itu yang tak berhenti menggoda untuk tahu bagaimana kabarku, kabar kita! Aku tak pernah alpa mendokanmu tiap kali kau melintas dalam ruang pikirku. Tapi kumohon untuk berhenti, harusnya kau lelah terlalu sering bermain-main dalam ruang kepalaku. Aku tak ingat ini kali keberapa kau menghadiahkanku melulu hujan, perasaanku menjadi resisten dengan hadiah-hadiahmu.

Kesungguhan apa yang kumiliki selain penerimaan yang sudah kusebut ikhlas ini. Tadinya, aku ingin berpura-pura untuk lupa bahwa ini Desember. Tapi bisa apa aku dengan jadwal ujian yang tertempel tepat depan mataku, kata “Desember” selalu saja mengikutiku. Desember sudah setahun berlalu, hanya ada doa yang ingin kutitipkan sebelum penghujung Desember menjemput hari baru di Januari. Meski membawa ketakutan-ketakutan baru, setidaknya kita tahu bagaimana mengatasinya.

Kau tak lupa, kan? Kita bertemu di Desember delapan tahun lalu. Jarak antara rumahku dan rumahmu, jalan yang kita lalui itu menyaksikan kita menjadi dewasa. Alasan apa yang akan kau jelaskan padanya ketika ia bertanya padamu suatu hari? Andai pertanyaan itu juga untukku, aku hanya akan bungkam. Harusnya ia paham dengan raut wajahku. Aku ingin belajar menyembunyikan sesuatu. Sekali lagi tetaplah bahagia. Meski ada hati yang menjadi tumbal untuk senyum diwajahmu. Dan gambar itu, gaun pengantin yang kau pilih untuk resepsimu sangat cocok kau kenakan, seperti yang pernah kita bincangkan bersama, meski kau mengenakannya dan bersanding dengan orang yang berbeda..

 

Buku

“Perubahan Sosial sesungguhnya bukan hanya soal mengganti rezim kekuasaan politik dan ekonomi, melainkan juga soal keberanian dan ketegaran mempertahankan ruang dan cara-cara kehidupan yang mampu membendung segala bentuk kerakusan dan kepongahan kekuasaan–termasuk kekuasaan budaya– yang selalu memaksakan kehendaknya sendiri. Dalam hal inilah, pengertian ‘perlawanan’ (resistance) semestinya menemukan keterpaduan dan kesebatiannya dengan ‘ketangguhan’ (resilience) dan ‘kebangkitan’ (resurgence) dari kekuatan-kekuatan kolektif suatu masyarakat untuk menjaga dan mempertahankan martabat kamanusiaan mereka.
Roem Topatimasang, dalam pengantar buku “Tindakan-tindakan Kecil Perlawanan”.

Suatu waktu, saya pernah melakukan mogok makan sebab permintaanku untuk belajar mengendarai motor kala itu tak kunjung diberi izin. Berulang kali saya meminta agar bisa belajar, namun mama selalu saja ngotot untuk melarangnya. Belum lagi ketika mama mendengar hal-hal mengerikan tentang remaja yang berkendara. Semua itu hanya persepsi sebuah ketakutan-ketakutan, yang belum tentu itu akan terjadi padaku jika bisa mengenderai motor. Saya diam-diam belajar, oleh seorang sepupu laki-laki yang tinggal di rumah waktu itu, akhirnya saya bisa menikmati tancapan gas roda dua. Setelah benar-benar bisa, orang-orang di rumah akhirnya merasakan banyak manfaatnya. Bahkan mama, yang awalnya bersikeras menolak permohonanku itu, ia betul-betul memiliki keberanian untuk dibonceng. Itu bentuk perlawanan yang pernah kulakukan, diselimuti ketakutan namun dilawan oleh keyakinan-keyakinan atas kemampuan untuk bisa.

Perubahan dibangun atas dasar kesadaran dan keyakinan atas perubahan itu sendiri. Tentu dibarengi dengan ide yang tidak biasa, bahkan bisa mengecoh alasan sebenarnya untuk sebuah perubahan. Seperti dalam buku ‘Tindakan-tindakan Kecil Perlawanan’ yang ditulis oleh Steve Crawshaw & John Jackson menghimpun sekitar delapan puluh cuplikan kisah nyata tindakan perlawanan. Mulai dari kereta-kereta dorong bayi yang mengalahkan tank baja, kertas toilet hingga saus merah makanan cepat saji menjadi alat perlawanan untuk meruntuhkan rezim tiran.

Untuk bersimaharaja lela, kejahatan hanya memerlukan seorang yang baik, yang tidak melakukan apapun (Edmund Burke), namun tidak pada cuplikan kisah nyata dalam buku ini, mereka menolak bungkam ketika ruang-ruang sosial mereka terusik atas ancaman penguasa. Dua hal untuk membuat revolusi; massa yang tidak puas dan suatu elit yang berkepala batu (Chalmers Johnson), terpenuhinya syarat keduanya, menciptakan gerakan kolektif yang dilakukan masyarakat atas pemberangusan hak-hak yang dilakukan oleh elit.
Kalau dalam konteks Indonesia, Marsinah adalah sebuah cermin perlawanan buruh dalam bibit tumbuhnya gerakan buruh. Tentu kawan biasa membaca kisahnya.Saya merekomendasikan buku ini untuk kawan baca, banyak hal sepele bahkan lucu yang membuat penguasa jejeritan atas tingkah perlawanan masyarakat.

 

Dan…adakah pertarungan yang lebih hebat selain melawan diri sendiri? Mari merefleksi diri lagi, sudahkah kita melawan kebejatan diri sendiri, nafsu atas dunia bahkan ketakutan yang bersemayam dalam diri kita?
Kata Wijhi Tukul; hanya ada satu kata : LAWAN!!

 

Makassar, 3 Juni 2016

 

 

Cerita Film

Dalam setiap arena diskusi, perempuan adalah salah satu pembahasan yang selalu serius dibicarakan. Banyak hal unik yang melekat padanya. Mulai berbicara tentang rupanya atau yang biasa kita lekatkan dengan kata cantik, kelembutannya, rasa kasihnya hingga persoalan pada ranah domestik yang selalu dititik beratkan padanya saja. Bahkan ada hari-hari tertentu untuk merayakan hari perempuan.

 

Bercerita tentang film, saya ingin mengangkat cerita tentang perempuan serta kebudayaan yang boleh dikata mengikat dan mengeksploitasi perempuan. Kisah ini nun jauh dari tanah air, tapi dalam setiap negara, berbicara tentang perempuannya, konteksnya selalu sama. Selalu saja dalam bayang-bayang ketidakberdayaan.

 

Dalam film ini, dikisahkan seorang anak perempuan hidup dalam keluarga yang tidak mampu. Sang Ayah akhirnya menjualnya pada seorang Geisha senior. Sejak dirinya resmi berpindah dalam rumah Geisha, ia harus berdamai dengan kenyataan bahwa hari-harinya akan selalu penuh dengan sentuhan lelaki yang telah membayar pada Ibu Geishanya itu. Dengan latar belakang sebelum Perang Dunia II, pada saat itu Geisha di Jepang sangatlah berjaya kisaran pada masa ‘Keshogunan’.
Lalu apa itu Geisha? Grup band yang seperti teman-teman kenal? Ternyata bukan. Geisha adalah perempuan-perempuan yang direkrut sebisa mungkin sejak masa anak-anak. Mereka  diajari menari, menuangkan teh dengan tangan yang begitu lentik, harus bisa memakai kimono dengan baik dan berdandan secantik mungkin. Terlebih lagi bagaimana ia bisa memuaskan lelaki yang menjamahnya setiap hari. Kalau di Indonesia, kita biasa mengenalnya dengan (maaf) pelacur.

Namun, ada yang berbeda dengan Geisha, pada zamannya mereka dikenal sebagai kelompok yang eksklusif, mereka tak harus tidur dengan pelanggannya (pada sebuah referensi), sampai akhirnya pelanggannya sendiri yang berani menjamin kehidupan seorang Geisha dan mengeluarkannya dari rumah Geisha (misalnya menikahi seorang Geisha). Kisah ini diangkat dari sebuah novel yang berjudul sama dengan filmnya, “Memoirs of Geisha”.
Ada hal yang menarik dengan Geisha dan sejarah Indonesia. Apa kalian tahu berapa kali Presiden Indonesia pertama kita, bapak Ir. Soekarno menikah? Saya pun tak tahu berapa jumlah istri beliau sebenarnya. Heheh. Yang ingin saya katakan, salah seorang dari istri-istri beliau itu ternyata ada seorang Geisha dari Jepang.

 

Geisha ini meninggalkan kehidupan kelamnya setalah mendapat jaminan dari pak Soekarno, konon kabar beliau punya anak dari istri Geishanya itu. Lalu apa hubungannya saya bahas soal pak Soekarno? Hehehe Insya Allah, ada. Silakan cari saja, untuk menambah pengetahuan sejarahnya, ada buku yang bahas soal istri pak Soekarno itu, judulnya “Madam de Yakuza”, isinya mengulik sejarah dan persoalan tentang Geisha. Kalau teman-teman mau nonton filmnya, silahkan. Tapi, film ini kontennya berisi untuk umur 18+ yah, berat sih..
Akhir-akhir ini, saya lagi baca buku tentang perempuan Jepang, mungkin saja ada yang juga tertarik, dua judul buku diatas tadi lumayan menggambarkan bagaimana Negara dan orang-orang Jepang memperlakukan perempuan-perempuannya. Nah, satu lagi, “The Scent of Sake” judul novel yang lagi saya baca. Tentang perempuan dan pandangan tentang ‘the second sex’ begitu melekat padanya. Kehadiran anak perempuan yang dianggap hanya sebatas melahirkan anak saja, dan juga kehidupan geisha dibahas dinovel ini.
Maaf, mungkin ini berat….hehe 😀